Apa Agama Ibu Kartini?

Tubuh, Tubuhku, mengatakan sesuatu kepada saya, saya sangat benar-benar, benar-benar bahagia. Secara fisik, rohani rusak, saya memiliki energi lagi. Untuk hari sudah seolah-olah ada api di kepala saya, karena hati saya adalah peluru terbakar. Saya diasumsikan masih hidup, Apakah hidup ini? Ada hal-hal yang lebih buruk kemudian mati. Dan ketika aku mati, apa yang akan yang telah dicapai? Tidak ada! selain itu saya telah terhalang beberapa orang, tersandung di egoisme mereka. ... Oh kasihan, kasihan impian saya, Kasihan saudara saya.

Rumah itu seakan sepi, burung tidak lagi Berkicau, terbaring dengan sayap patah, patah hati , oh dan hati penuh dengan rasa mengerikan, pikiran jahat. Apakah Anda membenci saya, ya? -itu sulit , tapi masih tertahankan , tapi aku tidak bisa menghargai diri sendiri, bahwa saya tidak tahan. Tuhan kasihanilah, Tunjukkanlah Aku jalan!
Apa Agama Ibu Kartini?

Seperti itulah penggalan surat dalam buku “Letters from Kartini – Indonesian Feminist 1900 – 1904“ yang diterjemahkan oleh Joost Cote. Bagaimana melihat seorang Pahlawan dengan pergulatan batin seperti itu. Kartini pada akhirnya tak menolak menjadi istri keempat seorang lelaki yang beda usianya 30 tahun serta sudah memilik 7 anak. Sayapun menebak nebak, apa sesungguhnya agama Kartini. Karena dalam kegalauan di surat suratnya, ia banyak menyebut Tuhan.

Pramudya Ananta Toer, dalam bukunya ‘ Panggil aku Kartini saja – 1962 ‘ berusaha menggambarkan sosok seorang penganut sinkretisme Kejawen. Pram menulis, “ Bagi Kartini semua agama sama, sedangkan nilai manusia terletak pada amalnya kepada sesamanya yaitu masyarakat “
Tidak salah karena Kartini mengatakan dalam terjemahan Joost Cote diatas.

“ We say that we trust in God and that is what we will maintain. We want to serve God and not people. If we listen to people then we worship people and not God.” (Kartini, 12 Oktober 1902)

Menurut Kartini, “ tolong menolong dan cinta mencintai , itulah nada dasar segala agama. Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun Islam “.

Agama kebatinan Kartini ini ada yang mengkaitkan dengan pengalaman masa kecilnya. Suatu waktu ia sakit keras, dokter yang dipanggilnya tidak bisa menyembuhkan. Lau datang seorang cina yang mencoba menyembuhkan. Ia meminta Kartini meminum abu dari lidi sesaji yang biasa dipakai di klenteng atau vihara. Setelah minum abu lidi tadi, Kartini memang sembuh. Kartini merasa menjadi anak Buddha dan pantang makan daging.

Pencarian tentang Agama dari Kartini tak pernah berhenti. Ia merasa Islam tidak pernah memberi jawaban. Sejak lama ia buta terhadap Islam, agama yang secara tradisional dipeluknya.
Dalam suratnya ke Stella Zeehandelaar (18 Agustus 1900). Kartini merindukan tafsir Al Qur’an bisa dipelajari. Ia mengecam tentang metode pengajaran al Qur’an, tapi tak ada seorangpun yang mengerti , karena memakai bahasa arab.

Surat lain Kartini kepada Ny. Van Kol , agustus 1901, menyebut derita neraka yang dialami kaum perempuan yang disebabkan ajaran Islam, yang disampaikan para guru guru agama. Ini berkaitan dengan pola poligami yang lazim dilakukan para pembesar, golongan priyayi. Agama Islam menjadi pembela egoisme lelaki, yang menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak adil.

Derita Neraka yang digambarkan Kartini, ditulis ulang oleh Pram dalam pembukaan roman ‘ Gadis Pantai ‘ yang dicurigai sebagai simbol kisah penggalan hidup Kartini yang tragis. Roman ini menusuk feodalisme Jawa yang dianggap tak memiliki jiwa kemanusiaan. “ Mengerikan Bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini. Seganas ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi… Ah aku tidak suka pada priyayi. Gedung gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan “.

Kartini mengutuk cara ini. Ia menulis “ Itu bukan dosa, bukan pula aib. Ajaran Islam mengizinkan kaum lelaki kawin dengan empat orang perempuan sekaligus. Mengapa hal ini seribu kali tidak bolah disebut dosa menurut hukum dan ajaran Islam. Selamanya saya tetap menganggapnya dosa. Semua perbuatan yang menyebabkan sesama manusia menderita, saya anggap sebagai dosa. Dosa ialah menyakiti makhluk lain. Manusia “

Dalam buku Th Sumartana, ‘ Tuhan dan Agama dalam pergulatan batin Kartini ‘ – Tahun 1993. Ia menggambarkan kedekatan Kartini dengan ajaran Kristen. Terutama pengaruh sang guru, Ny Van Kol. Dari nyonya ini Kartini belajar membaca bible, kitab suci Kristen. Ia mengerti sebagian prinsip teologis ajaran Kristen. Ia menggambarkan kedekatannya dengan ayahnya sendiri – walau dalam beberapa hal mereka tidak sependapat – sebagai kedeketakannya dengan Tuhannya. Sebab itu ia menyambut baik, ketika Ny Van Kol memperkenalkan Tuhan sebagai Bapa.

Ungkapan ini sangat tepat karena sebagai gambaran pengalaman batinnya, sehingga dalam surat surat Kartini sangat sering ditemukan ungkapan Tuhan sebagai Bapa yang penuh kasih sayang. Salah satunya adalah, “ Agama dimaksud supaya memberi berkah, membentuk tali persaudaraan diantara semua, berkulit putih atau coklat. Tidak pandang pangkat, perempuan atau lelaki, kepercayaan semuanya kita ini anak Bapa yang satu itu. Tuhan yang Maha Esa “

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol tanggal 20 Agustus 1902. Kartini menulis, bahwa ia melakukan curhat terhadap ibunya dengan agama baru ini “ Ibu sangat gembira. Beliau ingin sekali bertemu dengan nyonya agar dapat mengucapkan terima kasih sceara pribadi kepada nyonya atas keajaiban yang telah nyonya ciptakan pada anak anaknya. Nyonya telah membuka hati kami untuk menerima Bapa Cinta Kasih “

Kartini memang lahir dan kemudian meninggal sebagai muslim. Semua memang mengakuinya. Mungkin dia ditakdirkan menjadi milik semua golongan. Namun kita tak pernah tahu isi hatinya. Sampai sekarang. Satu hal dia beruntung tidak hidup di jaman sekarang. Karena pencariannya tentang agama, pasti membuatnya dianggap JIL.


loading...