Asteroid Raksasa Akan Menabrak Bumi pada Malam Natal?

Sebuah asteroid raksasa yang melintas dekat bumi pada malam Natal diperkirakan akan menimbulkan gempa dan letusan gunung berapi. Batu ruang angkasa selebar 1,5 mil, yang dinamai 2003 SD220, itu berpotensi melenyapkan sebuah benua dalam kasus tumbukan langsung.

Asteroid raksasa itu adalah satu dari 17 benda angkasa luar yang dipantau ketat oleh NASA dan para ahli astronomi karena kedekatannya dengan bumi. Para ilmuwan percaya, 2003 SD220 bisa berukuran lebih besar karena dianggap bagian dari massa obyek itu mungkin telah diselimuti kabut gelap.

Laman Mirror, 16 Desember, melaporkan berita ini mungkin hanyalah rumor teori konspirasi tentang Planet X misterius empat kali Jupiter yang akan melewati Bumi bulan ini. Namun mereka menambahkan beberapa rincian tentang pentingnya mengamati benda asing yang mendekat.

NASA menjelaskan jika radar akan memberikan rincian dari karakterisasi fisik pertama benda-benda, termasuk ukuran, bentuk, fitur permukaan, sifat reflektif, dan jarak dengan permukaan bumi.

"Kami mengusulkan pemotretan radar, karakterisasi fisik, dan penyempurnaan orbit dari 17 Neas di tahun kalender 2015 menggunakan 294 jam. Radar ini bisa dibilang teknik di Bumi yang paling kuat pasca-penemuan karakterisasi fisik dan dinamis dari asteroid paling dekat ke Bumi (Neas)," NASA melaporkan dalam sebuah pernyataan.

"Dalam jangka panjang, pengamatan kami akan membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang asal usul keragaman dalam morfologi asteroid, pentingnya mekanisme perintang, pengaruh tumbukan, struktur interior, dan sifat termal dari asteroid. "

Express melaporkan, Asteroid dikatakan berjarak sekitar 6,7 juta mil dari bumi, tapi para ahli mengkhawatirkan kemungkinan efek Yarkovsky yang membuat asteroid bergeser dan mengubah orbitnya.

"Secara umum, radar astrometri memungkinkan peningkatan substansial dalam pengetahuan lintasan asteroid yang penting untuk perencanaan misi, eksploitasi sumber daya, dan penilaian dampak asteroid yang berpotensi berbahaya (Odha)," tutur laporan itu.

loading...