Letusan Tambora Seribu Kali Letusan Gunung Merapi

Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat meletus dengan dahsyat pada 11 April 1815. Tapi menurut catatan, letusan itu terjadi dalam beberapa fase.

Seperti yang dilansir CNN Indonesia, Kepala Badan Geologi Surono mengatakan fase pertama letusan Tambora terjadi sebelum 5 April 1815. Saat itu Tambora memuntahkan abu vulkanik. Lalu pada 5 April, Tambora mengeluarkan pumice alias batu apung.

“Yang mencerminkan bahwa magma kaya dengan gas,” tutur Surono, mengutip hasil penelitian pada 1989, di Jakarta (9/4). Tinggi lontaran material batu apung itu disebut mencapai 33 kilometer.

Fase ketiga terjadi antara 5-10 April 1815 dengan lontaran abu vulkanik dan di ujung fase kemungkinan terjadi lahar hujan. Sedangkan fase keempat, 10 April 1815, adalah fase terdahsyat, yaitu terjadinya letusan superplinian (vertikal dengan tekanan sangat tinggi).

Ketinggian kolom letusan mencapai 43 kilometer dengan material berupa batu apung. Fase terakhir adalah pada 10-11 April 1815 dengan terjadinya tujuh kali aliran awan panas yang menyelimuti gunung sampai ke semenanjung Sanggar dan masuk ke lautan.

Berapa volume letusan? Surono menyebutkan sekitar 100 kilometer kubik. Ini seribu kali lebih besar ketimbang volume dari letusan Gunung Merapi pada 2010 yang 'hanya' 0,1 kilometer kubik.

“Sedahsyat itu Merapi, hanya seperseribu Tambora,” kata Surono.

Estimasi Berlebihan
Besar volume letusan Tambora sebetulnya bervariasi berdasarkan hasil penelitian masing-masing ahli. Penelitian sejumlah ahli pada era 1855-1855 memperkirakan volume letusan Tambora mencapai 254-1.800 kilometer kubik.

Tapi perhitungan itu dianggap terlalu berlebihan. Penelitian yang relatif lebih baru, yaitu pada 1949 sampai 2014 mendapati angka 100-150 kilometer kubik.

loading...